← Kembali ke Galeri
0
0
Diterbitkan pada : 20 May 2026
Hentikan Kekerasan dari Akar: Literasi sebagai Senjata Perempuan Sikka Melawan Ketidakadilan
Oleh: Very Awales
(Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka)
Peringatan Hari Kartini Tahun 2026 di Kabupaten Sikka harus dibaca sebagai alarm keras: kita tidak bisa lagi menoleransi kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam bentuk apa pun. Seruan yang digaungkan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, perempuan berdaya dan anak terlindungi bukan sekadar slogan, tetapi sebuah tuntutan perubahan yang mendasar.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., menegaskan dengan jelas arah gerakan ini:
“Perempuan Sikka harus berdaya, berani, dan terlindungi. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan. Momentum Kartini ini adalah panggilan untuk bergerak bersama, memperkuat peran perempuan dalam pembangunan, sekaligus memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bermartabat.”
Pernyataan ini bukan hanya ajakan, tetapi mandat moral bagi kita semua. Namun, menghentikan kekerasan tidak cukup hanya dengan seruan. Kita harus berani menyentuh akar persoalan. Dan di situlah literasi menjadi kunci utama.
Literasi adalah kekuatan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan. Perempuan yang memiliki literasi kuat tidak mudah dibungkam, tidak mudah dimanipulasi, dan tidak akan diam ketika menghadapi ketidakadilan. Ia tahu haknya, berani bersuara, dan mampu melindungi dirinya serta anak-anaknya.
Sebaliknya, rendahnya literasi seringkali menjadi pintu masuk bagi berbagai bentuk kekerasan—baik dalam rumah tangga, lingkungan sosial, maupun ruang digital. Ketidaktahuan, ketergantungan, dan minimnya akses informasi membuat perempuan dan anak berada dalam posisi rentan.
Karena itu, jika kita serius ingin menjawab seruan Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, maka kita harus serius membangun budaya literasi.
Gerakan literasi tidak boleh berhenti di sekolah atau perpustakaan semata. Ia harus hidup di dalam rumah. Ibu Ketua TP PKK Kabupaten yang juga sebagai Bunda Literasi harus menjadi agen literasi pertama, dan keluarga harus menjadi ruang belajar yang aman dan penuh nilai.
Perpustakaan harus kita dorong menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Tempat di mana perempuan tidak hanya membaca, tetapi juga belajar, berdiskusi, dan membangun kapasitas diri. Anak-anak pun mendapatkan ruang aman untuk bertumbuh dengan nilai-nilai positif.
Di sisi lain, kearsipan memiliki peran penting dalam menjaga jejak perjuangan perempuan Sikka. Arsip menjadi sumber inspirasi yang menegaskan bahwa perempuan Sikka sejak dahulu adalah sosok yang tangguh, kreatif, dan berdaya tercermin dalam warisan budaya seperti tenun ikat yang terus hidup hingga hari ini.
Apa yang dilakukan oleh PKK Kabupaten Sikka melalui kampanye anti kekerasan dan pelestarian budaya merupakan langkah strategis. Namun, gerakan ini harus diperkuat dengan pendekatan literasi yang sistematis dan berkelanjutan.
Kita juga dihadapkan pada tantangan baru di era digital. Kekerasan tidak lagi hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui ruang virtual perundungan siber, eksploitasi digital, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan. Tanpa literasi digital yang memadai, perempuan dan anak akan semakin rentan.
Karena itu, membangun perempuan berdaya dan anak terlindungi harus dimulai dari satu hal mendasar: memastikan mereka memiliki akses terhadap pengetahuan.
Pengetahuan melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan keberanian.
Dan keberanian adalah awal dari perubahan.
Momentum Hari Kartini 2026 harus menjadi titik balik. Kita tidak hanya mengenang perjuangan Kartini, tetapi melanjutkannya dalam konteks kekinian: membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berani melawan ketidakadilan.
Menjawab seruan Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., maka tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah atau PKK semata, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat.
Jika kita ingin Sikka benar-benar bebas dari kekerasan, maka kita harus mulai dari rumah, dari keluarga, dan dari literasi.
Karena kekerasan tidak akan pernah hilang tanpa perubahan cara berpikir.
Dan perubahan cara berpikir hanya bisa lahir dari literasi.
Oleh: Very Awales
(Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka)
Peringatan Hari Kartini Tahun 2026 di Kabupaten Sikka harus dibaca sebagai alarm keras: kita tidak bisa lagi menoleransi kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam bentuk apa pun. Seruan yang digaungkan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, perempuan berdaya dan anak terlindungi bukan sekadar slogan, tetapi sebuah tuntutan perubahan yang mendasar.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., menegaskan dengan jelas arah gerakan ini:
“Perempuan Sikka harus berdaya, berani, dan terlindungi. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan. Momentum Kartini ini adalah panggilan untuk bergerak bersama, memperkuat peran perempuan dalam pembangunan, sekaligus memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bermartabat.”
Pernyataan ini bukan hanya ajakan, tetapi mandat moral bagi kita semua. Namun, menghentikan kekerasan tidak cukup hanya dengan seruan. Kita harus berani menyentuh akar persoalan. Dan di situlah literasi menjadi kunci utama.
Literasi adalah kekuatan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan. Perempuan yang memiliki literasi kuat tidak mudah dibungkam, tidak mudah dimanipulasi, dan tidak akan diam ketika menghadapi ketidakadilan. Ia tahu haknya, berani bersuara, dan mampu melindungi dirinya serta anak-anaknya.
Sebaliknya, rendahnya literasi seringkali menjadi pintu masuk bagi berbagai bentuk kekerasan—baik dalam rumah tangga, lingkungan sosial, maupun ruang digital. Ketidaktahuan, ketergantungan, dan minimnya akses informasi membuat perempuan dan anak berada dalam posisi rentan.
Karena itu, jika kita serius ingin menjawab seruan Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, maka kita harus serius membangun budaya literasi.
Gerakan literasi tidak boleh berhenti di sekolah atau perpustakaan semata. Ia harus hidup di dalam rumah. Ibu Ketua TP PKK Kabupaten yang juga sebagai Bunda Literasi harus menjadi agen literasi pertama, dan keluarga harus menjadi ruang belajar yang aman dan penuh nilai.
Perpustakaan harus kita dorong menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Tempat di mana perempuan tidak hanya membaca, tetapi juga belajar, berdiskusi, dan membangun kapasitas diri. Anak-anak pun mendapatkan ruang aman untuk bertumbuh dengan nilai-nilai positif.
Di sisi lain, kearsipan memiliki peran penting dalam menjaga jejak perjuangan perempuan Sikka. Arsip menjadi sumber inspirasi yang menegaskan bahwa perempuan Sikka sejak dahulu adalah sosok yang tangguh, kreatif, dan berdaya tercermin dalam warisan budaya seperti tenun ikat yang terus hidup hingga hari ini.
Apa yang dilakukan oleh PKK Kabupaten Sikka melalui kampanye anti kekerasan dan pelestarian budaya merupakan langkah strategis. Namun, gerakan ini harus diperkuat dengan pendekatan literasi yang sistematis dan berkelanjutan.
Kita juga dihadapkan pada tantangan baru di era digital. Kekerasan tidak lagi hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui ruang virtual perundungan siber, eksploitasi digital, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan. Tanpa literasi digital yang memadai, perempuan dan anak akan semakin rentan.
Karena itu, membangun perempuan berdaya dan anak terlindungi harus dimulai dari satu hal mendasar: memastikan mereka memiliki akses terhadap pengetahuan.
Pengetahuan melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan keberanian.
Dan keberanian adalah awal dari perubahan.
Momentum Hari Kartini 2026 harus menjadi titik balik. Kita tidak hanya mengenang perjuangan Kartini, tetapi melanjutkannya dalam konteks kekinian: membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berani melawan ketidakadilan.
Menjawab seruan Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., maka tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah atau PKK semata, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat.
Jika kita ingin Sikka benar-benar bebas dari kekerasan, maka kita harus mulai dari rumah, dari keluarga, dan dari literasi.
Karena kekerasan tidak akan pernah hilang tanpa perubahan cara berpikir.
Dan perubahan cara berpikir hanya bisa lahir dari literasi.
Tulis Komentar
Komentar Publik (0)
Belum ada komentar.